Rabu, 24 April 2019

Sistem Manajemen Mutu: Awareness of ISO 9001:2015

Henry Ford: Quality means doing it right when no one is looking


Kesempatan kali ini saya akan menuliskan apa yang saya pelajari dari hasil Pelatihan Pengenalan ISO 9001:2015 pada 14 April 2019 dan akan berisikan poin-poin penting dasar.

1. Sistem Manajemen:
yang dimaksud dengan sistem manajemen berupa:

  • QMS / Quality Management System (untuk mutu): ISO 9001:2015, API Spec Q1, Q2
  • EMS / Environment Management System (untuk lingkungan hidup): ISO 14001:2015
  • OHSMS / Occupational Health and Safety Management System (untuk K3): OHSAS 18001:2017, ISO 45001:2018, SMK3, PP 50 Tahun 2012
Sistem manajemen tidak mensertifikasi produk, melainkan sistem manajemennya: lingkup pekerjaan yang harus dilakukan.


2. Ciri sistem manajemen:
  • Adanya perintah: kebijakan, pedoman, prosedur, program
  • Implementasi: berupa tingkah laku, pengisian formulir: MOM, data inspeksi, data pengukuran, PO (Purchase Order), dll
  • Internal audit
    • Sertifikasi Auditor: ISO 19011
    • Seorang auditor tidak boleh mengaudit Departemennya sendiri. Untuk validasi audit, maka Departemen yang diaudit harus ada hubungan. Contoh: Departemen QA mengaudit Departemen Operasional
  • Tinjauan manajemen / MR (Manajemen Review)
    • berupa rapat yang membahas laporan hasil audit.

3. Konsep Mutu
  • Standar mutu terbagi menjadi 3:
    • owned requirement : contoh: perusahaan dalam memproduksi barang tidak meminta persetujuan dari konsumen
    • customer requirement : contoh: konsumen menentukan kriteria dalam pemilihan barang
    • mixed requirement : perpaduan antara owned dengan customer : contoh: pembelian barang di toko eceran
  • Tujuan Sistem Manajemen Mutu bersifat "mengurangi"
    • mengurangi product reject
    • mengurangi keluhan konsumen


4. Struktur ISO 9001:2015
  • Terlampir kerangka yang dibagikan oleh Steve Barfoot mengenai ISO 9001:2015 Process Interaction with the Seven Quality Management Principles yang dengan mudah dipahami

https://image.slidesharecdn.com/421518c3-e9fa-43a1-840e-791ec0d3f91c-151118195019-lva1-app6892/95/flowchart-1-638.jpg?cb=1447876244



5. Klausul 4 Context of the Organization

a. 4.1 - Understanding of the organization and its context
b. 4.2 - Expectations of interested parties
hal yang diperhatikan dan dipertimbangkan:
  • menetapkan masalah eksternal dan internal, baik positif dan negatif, yang berkaitan dengan tujuan dan arah strategis Perusahaan
  • eksternal: peraturan perundangan, persaingan, pasar, budaya, sosial 
  • internal: kinerja organisasi, karyawan, teknologi, sistem

6. Klausul 5 Leadership

a. 5.1 Leadership and commitment
Perusahaan, terutama Top Manajemen, dikatakan berkomitmen jika:
  • Top manajemen menandatangani kebijakan
  • Top manajemen mau turun melihat proses kerja karyawan dan memahami kesulitan
  • Top manajemen mau mengeluarkan uang untuk mendukung program positif
b. 5.2 Policy - Kebijakan mutu - harus mencakup:
  • tujuan dan konteks organisasi serta mendukung arah strategis
  • tersedia kerangka kerja untuk sasaran mutu
  • komitmen untuk persyaratan
  • mencakup perbaikan berkesinambungan
  • Peran, tanggung jawab dan kewenangan 
c. 5.3 Roles responsibilities and authorities
Perusahaan, melalui peran Departemen HR, harus membuat:
  • persyaratan suatu jabatan dan deskripsi pekerjaan
  • matrix atau rencana pelatihan, sesuai dengan kebutuhan Perusahaan dan Users
  • evaluasi hasil pelatihan - berdasarkan KPI atau implementasi program
  • rekaman hasil pelatihan - karyawan men'distribusikan' pengetahuan yang didapat terhadap Departemen  / karyawan yang membutuhkan. rekaman berupa daftar hadir atau sertifikat
  • adanya induksi/pengenalan Perusahaan terhadap karyawan baru, tamu, kontraktor, magang

7. Klausul 6 Planning

a. 6.1 Actions to address risk and opportunity
  • Dokumen: Prosedur identifikasi mutu
  • Dokumen berisikan:
    • langkah pekerjaan, kondisi, aktifitas, isu keterkaitan lingkup perusahaan dengan mutu produk
    • peluang positif
    • peraturan perundangan / standar
    • risiko
    • penanganan peluang
    • lamanya periode pengendalian risiko
    • penanggung jawab
    • efektifitas dianalisa dan dievaluasi
b. 6.2 Quality objectives and planning to achieve them
  • yang dinamakan sasaran, target dan program haruslah terukur, tahu apa yang akan dilakukan, sumber daya yang diperlukan, siapa yang bertanggung jawab, periode selesai, dan cara mengevaluasi hasil
  • dibuat perbulan, quartal, semester, atau tahunan
  • Perbedaan sasaran, target dan program dalam hal yang mudah dimengerti:
    • Target: penjualan 100 kardus per minggu
    • Sasaran: wilayah Jakarta Timur
    • Program: peningkatan product branding, penambahan jumlah sales, penambahan jam kerja, penggantian metode penjualan, promo
c. 6.3 Planning of changing
Segala hal bentuk perubahan harus DIIDENTIFIKASI dan DIKOMUNIKASIKAN. 
Perubahan dapat berupa:
  • perencanaan
  • peraturan perundangan, standar
  • persyaratan produk atau jasa
  • disain dan pengembangan
  • penawaran, kontrak dan pesanan
  • peralatan, instalasi, proses, produk, lokasi kerja, jadwal kerja, kegiatan perusahaan
  • struktur organisasi
Dikomunikasikan terhadap pihak yang berkepentingan: user, klien, internal perusahaan, Badan Negara


8. Klausul 7 Support

a. 7.1 Resources
Setiap sumber daya itu perlu perawatan dan pemeliharaan secara berkala agar perusahaan tidak merugi setelah investasi besar-besaran.

Jika karyawan, investasi berupa pelatihan agar tetap terupgrade ilmu, penyegaran seperti outbond agar makin saling mengenal dan solid.

Tujuan perawatan berkala (PPM: Planned Preventive Maintenance) adalah memastikan alat tidak rusak dan operasional tetap berjalan.
  • susun daftar semua: infrastruktur, mesin, peralatan, perangkat keras/lunak
  • buat jadwal perawatan dan realisasi jadwal
  • ada bukti hasil perawatan dan pemeliharaan
  • ada pernyataan bahwa peralatan tersebut 'OK' (layak) dioperasikan
  • ada pernyataan 'RUSAK' jika tidak layak dioperasikan
  • ada komunikasi permintaan perbaikan peralatan yang rusak
Untuk semua peralatan yang berfungsi sebagai alat ukur dan pemantauan wajib dikalibrasi sesuai dengan kebutuhan. 
Kalibrasi adalah kegiatan membandingkan alat ukur terhadap standar ukur yang mampu telusur ke standar nasional maupun internasional untuk menunjukkan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur tersebut.

Kalibrasi dilakukan dalam jangka 12 bulan. Contoh kaliberasi pertama: 01 Januari 2017, kaliberasi kedua: 02 Januari 2018. Dikarenakan mengkaliberasi alat sangat mahal, maka cara mengakalinya adalah mengkaliberasi jika alat hendak dipakai. Selama jeda waktu tersebut, alat tidak boleh digunakan.

Suatu alat ukur dikatakan rusak dikarenakan:
  • tidak digunakan tepat sesuai fungsinya
  • tidak disimpan dengan benar
  • rusak
Perbedaan antara TERA dengan KALIBERASI - Tera itu terkait perundangan, sedangkan kalibrasi tidak

b. 7.4 Communication
Bentuk dari komunikasi dapat berupa:
  • rapat: rutin dan non rutin
  • papan pengumuman
  • papan observasi
  • rambu-rambu
  • pemberitahuan induksi
  • perubahan yang dikomunikasikan
  • komunikasi eksternal
Cara dan hasil komunikasi harus terekam / terlaporkan: MOM, daftar hadir, foto kegiatan, dll

c. 7.5 Documented information
Informasi yang didokumentasikan harus diberikan tanda stempel. Ada 3 jenis stempel: 
  • Controlled copy / document - dokumen yang digunakan dan didistribusikan internal
  • Obsolete / expired - dokumen usang atau sudah tidak terpakai
  • Uncontrolled copy / document - dokumen yang diberikan ke pihak lain / eksternal
di ISO 9001:2015 ada dokumen yang tidak boleh dimusnahkan, yakni rekaman pengujian untuk barang yang tidak habis, contoh: pengujian jembatan


9. Klausul 8 Operation

a. 8.1 Operational planning and control
Poin ini berisikan alur pengadaan, pengiriman, penerimaan dan penyimpanan barang.
Contoh alur:
  • Bagian A melakukan permintaan stok barang ke Pengadaan dengan spesifikasi tertentu. 
  • Pengadaan melakukan input data, mengkonfirmasi ke Bagian A terkait permintaan: PO (Purchase Order) dan menginformasikan ke Gudang
  • Pengadaan menerbitkan DO (Delivery Order) ke Supplier.
  • Saat barang dikirimkan ke Gudang, Supplier menunjukkan surat jalan / DO. 
  • Pihak Gudang harus melakukan pengecekan Packing List (bukti foto, terutama jika pakai kontainer). 
  • Jika berupa bahan kimia harus ada MSDS / LDKB
  • Material yang masuk ke dan keluar dari Gudang harus dicatat: GR (Good Receiving)
  • Bagian A mengambil barang dengan menandatangani bukti penerimaan internal. Tujuannya agar Gudang dapat melakukan stock opname secara berkala. 
  • Tujuan Stock Opname:
    • mengetahui stok yang ada
    • mengetahui selisih stok
    • dasar pemesanan
b. 8.2 Requirements for products and services
  • Berisikan informasi produk/jasa dan tinjauan terhadap permintaan penawaran dan kontrak
  • kesiapan kontijensi / tanggap darurat
    • Terkait mutu - yang ditanggap daruratkan: kerusakan mesin, pemasok tidak ada atau jumlah pemasok kurang, jaminan produk/jasa
c. 8.3 Design and development of product and services
Mengenai disain dan pengembangan. Terdiri atas 6 langkah:
  • Disain input - contoh: data pengukuran di lapangan, permintaan / keinginan pelanggan, standar, data material, data tenaga kerja
    • pengendalian disain input melalui: review disain, verifikasi, final disain review, validasi
  • Disain output - contoh: detail drawing, prosedur, manual pengoperasian, biaya, kurva S, material, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan peralatan dan mesin, HAZOP
  • Disain review
    • apa yang dilakukan jika ada perubahan, dalam tahapan disain atau pelaksanaan suatu disain
  • Disain verifikasi (persetujuan pelanggan) terkecuali bersifat owned requirement
  • Pembuatan produk
  • Disain validasi - pemeriksaan produk oleh QC
d. 8.4 Control of externally provided process, products and services
  • manajemen vendor: seleksi, evaluasi, analisa performa vendor
e. 8.5 Production and service provision 

Mengenai proses perencanaan, pengendalian pada produksi dan mampu telusur (dilacak dan diidentifikasi jika terjadi sesuatu).

Ada 3 keputusan yang ditetapkan oleh QC (Quality Control) terkait suatu produk:
  • PASS / OK
  • REPAIR
  • REJECT
Jika dalam suatu produksi, ternyata ada 1 persyaratan yang tidak memenuhi standar, maka barang akhir seharusnya bersifat REJECT karena rusak atau tidak memenuhi kualifikasi. Namun, untuk mengantisipasi kerugian, Perusahaan tetap dapat menjual barang tersebut dengan ketentuan: DIINFORMASIKAN / DIKOMUNIKASIKAN ke klien / konsumen serta dalam peredarannya dipantau (jika memungkinkan dan periode kadaluarsa singkat).

Pada saat serah terima produk dan jasa dan preservasi, harus ada:
  • BAST (Berita Acara Serah Terima) / DO sesuai termin
  • lampiran manual perawatan , gambar
  • bukti inspeksi / pengetesan
  • kopi sertifikat material
  • rambu/tanpa peringatan
  • pelindung pada produk dan jasa
  • garansi
Preservasi memiliki pengertian pengendalian produk agar tidak rusak sebelum serah terima.

 
10. Klausul 9 Performance Evaluation

a. 9.1 Monitoring, measurement, analysis and evaluation
  • Daftar peraturan perundangan disesuaikan dengan jenis usaha dan yang berkaitan dengan lingkup Perusahaan
  • standar atau peraturan yang belum terpenuhi harus ditandai dan diterbitkan dalam NCR (Non Conformity / Ketidaksesuaian)
  • Pemenuhan peraturan perundangan diperbaharui dan dievaluasi setiap tahun dan jika ada penambahan atau perubahan terhadap isi dari Peraturan atau Standar tersebut
Pemantauan dan evaluasi kinerja didapat dari hasil inspeksi/patroli pada setiap tahapan produk/jasa.

Pihak eksternal juga dapat melakukan evaluasi terhadap Perusahaan melalui keluhan dan survey kepuasan pelanggan. Evaluasi tersebut bersifat representatif terkait company performance review.

b. 9.2 Internal Audit
  • evaluasi terhadap departemen lain, minimal sekali dalam 12 bulan
  • berdasarkan checklist
  • auditor sudah ikut pelatihan internal audit
c. 9.3 Continual Improvement
Perbaikan berkelanjutan adalah tindak lanjut dari hasil rapat tinjauan manajemen yang dilakukan minimal sekali dalam 12 bulan. 
Rapat tinjauan manajemen harus membahas: 
  • status tindakan dari tinjauan manajemen sebelumnya 
  • perubahan masalah eksternal dan internal yang relevan dengan Sistem Manajemen
  • kinerja dan efektivitas
    • kepuasan pelanggan dan umpan balik
    • pemenuhan kewajiban kepatuhan
    • pemenuhan sasaran mutu
    • kinerja proses dan kesesuaian produk dan jasa
    • ketidaksesuaian dan tindakan korektif
    • hasil pemantauan dan pengukuran
    • hasil audit
    • kinerja penyedia eksternal
    • kecukupan sumber daya
    • efektivitas tindakan yang diambil untuk risiko dan peluang
    • peluang untuk erbaikan 


11. Klausul 10 Improvement

a. 10.2 Nonconformity and corrective action 
Formulir NCR keluar jika:
  • barang yang diterima tidak sesuai PO yang dikeluarkan
  • ketidaksesuaian pada saat inspeksi dan pengujian serta output
  • ketidaksesuaian pada internal audit
  • properti milik pelanggan dan pemasok rusak/hilang
  • ada keluhan
  • efek samping pada produk dan jasa


Sumber:
Hasil dari pelatihan Awareness ISO 9001:2015 dengan Pelatih: Bogi S.
ISO 9001:2015 (for training purpose)





Selasa, 23 April 2019

Pengangkatan Tingkat Dasar - bagian 1

“Each of us has the ability to build” 
― Sunday Adelaja

Proses pengangkatan banyak ditemukan dalam pekerjaan konstruksi atau segala sesuatu yang bersifat membangun atau memindahkan. Dasar pengetahuan yang dibutuhkan adalah: pemahaman tentang alat angkat dan proses pemberian aba-aba. Tanpa memiliki ilmu alat angkat secara dasar, akan sangat sulit untuk memperhitungkan cara pengendalian risiko di lapangan atau mitigasinya.

Beberapa poin yang perlu diperhatikan sebelum dan saat bekerja

  1. Kondisi dan situasi lapangan, dipastikan area yang akan dilalui oleh kendaraan angkat angkut bebas dari hambatan, tidak berada di bawah jalur pipa atau dekat dengan kabel bertegangan tinggi, dan material tertata rapih
  2. Pengamanan terhadap perlengkapan yang dipasang atau dibangun, termasuk bangunan yang berada disekeliling. Pasang rambu-rambu atau safety line untuk dapat dilihat oleh pekerja sekitar dan operator
  3. Gunakan peralatan yang sesuai dan memenuhi persyaratan keselamatan kerja. Lakukan inspeksi peralatan sebelum dan sesudah pekerjaan. Segera eliminasi dan hancurkan perlengkapan yang sudah rusak dan tidak layak pakai
  4. Pastikan Operator adalah terlatih dan tersertifikasi
  5. Ketahui berat barang yang akan diangkat dan SWL / Safe Working Load peralatan
  6. Pekerjaan hanya dilakukan saat kondisi cuaca mendukung. Hentikan jika: kondisi berkabut, berdebu tebal, kecepatan angin meninggi.
  7. Pastikan penerangan mencukupi saat bekerja di daerah gelap atau malam hari
  8. Hindari swing / perpindahan terlalu cepat pada crane
  9. Hindari gerakan kejut atau pengangkatan mendadak pada saat pengangkatan agar sling tidak kelebihan beban
  10. Gunakan peralatan bantu angkat yang diketahui identitas dan lakukan pemeriksaan berkala. Lakukan pemberian warna atau kode sesuai kesepakatan/aturan perusahaan
  11. Lindungi sling pada tepi yang menyudut atau permukaan tajam
  12. Hindari tekukan pada mata sling saat dipergunakan
  13. Dilarang melilitkan sling langsung pada hook 
  14. Maksimal sudut kaki sling yang terbentuk adalah 90derajat
  15. Jangan menekan atau memukul sudut pada kaki sling pada jenis ikatan jerat / choker karena akan memperbesar tegangan kaki sling
  16. Gunakan timbel dan/atau shackel sebagai penghubung pada ikatan choker
  17. Gunakan tali tambera / tagline untuk mengendaikan beban berat dan besar. 
    • Tag liner tidak boleh melilitkan tali pada tangannya; 
    • harus ada sisa sekitar 20cm pada ujung tali; 
    • jangan menarik tali terlalu kencang karena beban akan swing terlalu cepat ke arah tag liner
    • Hindari kemungkinan untuk berada di bawah boom dan beban
    • Pastikan tali tidak terikat bersamaan dengan sling atau rantai, terpasang kuat dan aman
Beberapa poin diatas bertujuan untuk mencegah bahaya yang umumnya terjadi:
  1. beban jatuh terlepas dari pancing atau pengingkatan dikarenakan rigger tidak berpengalaman, keteledoran atau karena kegagalan peralatan rigging
  2. perkakas atau peralatan bantu jatuh dari ketinggian dikarenakan tidak dilepas pada saat tidak ada pengangkatan atau saat penguncian latch tidak terkunci atau 3/4 dari posisi lock
  3. kekeliruan dalam penggunaan dikarenakan ketidaktahuan, keteledoran
  4. material yang diangkat menabrak orang/barang/bangunan dikarenakan kegagalan komunikasi

Note: berlanjut

Rabu, 17 April 2019

Sistem Manajemen Keamanan Pangan - Pengenalan ISO 22000:2018 dan FSSC 22000 (ver4.1:2017)

Ann Wigmore : "The food you eat can either the safest and most powerful form of medicine or the slowest form of poison"

Ralph Waldo Emerson: "The first wealth is health"

Robert Patterson:"It's more than just high quality food for the family table: it's growing the food in a way that doesn't harm the environment. That gives me emotional well-being that is important to me

Saya mengawali postingan ini dengan 3 quote yang sangat menarik dimana ternyata kekayaan utama itu bukan berwujud materi atau benda, melainkan kesehatan, salah satu manifestasi dari kegiatan harian: apa yang masuk dan dicerna oleh sistem pencernaan kita. Marilah kita mulai belajar cerdas memilih makanan sehat dan bergizi sebagai sumber kekuatan dan kesehatan.

Tulisan berikut ini merupakan hasil yang saya dapatkan dari pelatihan pengenalan ISO 22000:2015 and FSSC 22000 pada 13 April 2019. Sehingga saya sangat terbuka terhadap kritik dan saran membangun jika ada hal yang perlu perbaikan dan penambahan.

Sejarah FSMS (Food Safety Management System)



  • Tahun 2005 ISO mempublikasikan ISO 22000 (ISO 9001:2000 + HACCP), tetapi tidak disetujui oleh GFSI
  • Tahun 2008 BSI mempublikasikan PAS 220 sebagai tambahan persyaratan PRP di ISO 22000 klausul 7.2
  • Tahun 2009 akhirnya FSSC 22000 dipublikasikan dengan tambahan persyaratan dan disetujui oleh GFSI

GFSI (Global Food Safety Initiative)

GFSI merupakan komunitas yang menyatukan expertis keamanan pangan dari retail, manufaktur dan perusahaan berbasis pelayanan makanan, termasuk organisasi internasional, pemerintah, akademisi dan pelayanan jasa, hingga industri makanan. 

GFSI tidak menyetujui ISO 22000 dikarenakan kurang spesifiknya persyaratan dasar penilaian: PRP dan cakupan ruang lingkup sehingga tidak merepresentasikan detail dari Sistem Keamanan Pangan yang seharusnya.

Scope of FSSC (Food Safety System Certification) 22000

FSSC 22000 mencakup persyaratan untuk menilai sistem rantai keamanan pangan dengan lingkup skema:
  1. ISO 22000
  2. Spesifik PRP (Pre Requisite Programs)
    • penggunaan ISO/TS (seri 22002-1:2009 Food Safety) atau BSI/PAS 220
      • PRP No.1 untuk Food Manufacturing
      • PRP No.2 untuk Catering
      • PRP No.3 untuk Farming
      • PRP No.4 untuk Food Packaging Manufacturing
      • PRP No.5 untuk Retail and Wholesale
      • PRP No.6 untuk Animal Feed Production
  3. FSSC 22000 additional requirements terdiri dari 9 hal:
    1. Management of service
      • terdapat dokumen analisis bahaya yang dinilai, disetujui dan dimonitor berdasarkan ISO/TS atau BSI/PAS yang sesuai bidang jasa.
      • ada sistem untuk verifikasi analisis kritikal oleh laboratorium kompeten (contoh: terakreditasi KAN)
    2. Product labelling
      • Produk akhir diberi label. Peraturan Indonesia terkait Label Pangan:
        • PerkBPOM No.31 Tahun 2018 tentang label pangan olahan
        • PerkBPOM No.9 Tahun 2016 tentang acuan label gizi
        • PerkBPOM No.13 Tahun 2016 tentang pengawasan klaim pada label dan iklan pangan olahan
        • PerkBPOM No.23 Tahun 2016 tentang pencantuman informasi tanpa BTP (Bahan Tambahan Pangan) pada label dan iklan pangan
    3. Food defense 
      • Proses memastikan keamanan makanan dan minuman dari segala bentuk serangan berbahaya yang disengaja termasuk motivasi penyerangan ideologi terhadap kontaminasi, baik terhadap fasilitas produksi, rantai pengadaan, maupun sekuriti IT
      • Upaya perusahaan memitigasi hal ini melalui pembentukan tim dari berbagai divisi dan penilaian ancaman melalui pendekatan: TACCP (Threat Assessment Critical Control Point, CARVER + Shock, dan FDA Food Defense Plan Builder
      • FDA menyediakan layout Strategi Mitigasi Ketahanan Pangan (klik) melalui pemilihan kategori
    4. Food fraud
      • didefinisikan sebagai tindakan sengaja berupa substitusi, penambahan, merusak atau salah penyajian data makanan, bahan atau kemasan, label, informasi produk atau pernyataan produk yang menyesatkan untuk tujuan ekonomi/bisnis yang berdampak pada kesehatan konsumen.
      • Contoh: di Indonesia, setelah berproduksi puluhan tahun, bulan Juli 2018 akhirnya BPOM mengeluarkan larangan terkait Produk Susu Kental Manis dimana bahan dasarnya tidak ada susu sama sekali. Padahal target pasar selama ini adalah anak-anak. Oleh karena itu, melalui surat edarannya BPOM melarang iklan SKM menampilkan bintang iklan anak dibawah 5 tahun dalam bentuk apapun selama jam tayang acara anak-anak
      • Cara mitigasi: berpikirlah seperti seorang kriminal untuk mengetahui cara dan tujuannya sehingga Perusahaan dapat menyusun rencana mitigasi 
      • Berikut perencanaan mitigasi yang dapat dijadikan rujukan secara gratis: Food Fraud Vulnerability Assessment
    5. Logo use
      • Baik FSSC 22000 maupun ISO 22000 menyusun ketentuan penggunaan logo, dimana TIDAK diijinkan pencantuman pada:
        • Produk
        • Label
        • Kemasan
        • atau barang lainnya yang menyatakan bahwa FSSC 22000 dan ISO 22000 menyetujui suatu produk, proses atau jasa
    6. Management of allergens
      • Lebih dari 160 list alergen makanan yang dilist oleh FDA (U.S Food & Drugs Administration), termasuk jika ada kontaminasi silang proses pengolahan makanan, dengan 14 daftar umumnya:
        • Cereals containing gluten, namely: wheat (such as spelt and khorasan wheat), rye, barley, oats
        • Crustaceans for example prawns, crabs, lobster, crayfish
        • Eggs
        • Fish
        • Peanuts
        • Soybeans
        • Milk (including lactose)
        • Nuts; namely almonds, hazelnuts, walnuts, cashews, pecan nuts, Brazil nuts, pistachio nuts, macadamia (or Queensland) nuts
        • Celery (including celeriac)
        • Mustard
        • Sesame
        • Sulphur dioxide/sulphites, where added and at a level above 10mg/kg or 10mg/L in the finished product. This can be used as a preservative in dried fruit
        • Lupin, which includes lupin seeds and flour and can be found in types of bread, pastries and pasta
        • Molluscs like, mussels, whelks, oysters, snails and squid
      • Namun, di Indonesia belum ada kejelasan mengapa BPOM belum mensyaratkan keharusan pencantuman informasi Alergen dalam label informasi produk
    7. Environmental monitoring (only for Category C,I,K - Processing & Production)
      • Lingkungan yang dimaksud melingkupi dan tak terbatas pada: pekerja, sekeliling bangunan, bahan baku, air / udara, dan kontak langsung
      • Sehingga diperlukan program monitor lingkungan untuk memverifikasi keefektifan program kebersihan dan sanitasi agar sesuai dengan ketentuan pada ISO 22000
    8. Formulation of products (only for Category DII - Production of food for pets dogs and cats)
      • ketentuan formulasi yang mengatur penggunaan bahan (nutrisi) yang berdampak pada kesehatan hewan
    9. Management of natural resources (only for category A)
      • untuk peternakan hewan dimana berkewajiban
        • identifikasi risiko keberadaan peternakan terkait pajanan terhadap kesehatan binatang dan kesehatan publik sekitar peternakan
        • menilai bahaya terhadap pajanan air dan tanah
        • melakukan pengukuran dan pengendalian untuk perlindungan publik dan kesehatan binatang
Dikarenakan tidak sedetail FSSC 22000, jelaslah bahwa ISO 22000 lebih fleksibel bagi perusahaan dalam penerapan dan mendapatkan pengakuan sertifikasi untuk Sistem Manajemen Mutu Keamanan Pangan.

Berikut beberapa Perusahaan yang telah menerapkan FSSC 22000

  • Pepsico, Coca-Cola, Kraft, Danone, General Mills, Nestlé, Mars, Cargill, Unilever Metro, Wal-Mart, Ahold, ICA, Food Lion, Carrefour Belgium, US food Service, Migros, Stop&Shop, Giant, McDonald's, Friesland Campina, Mondelez International, dll
  • Penerapan FSSC 22000 tidak hanya pada Perusahaan/Kantor induk saja, tetapi diseluruh lini termasuk retail dan cabang. 


ISO 22000 : 2018

Adanya revisi ISO 9001:2008 menjadi ISO 9001:2015 membawa perubahan terhadap sistem ISO lainnya: ISO 14001:2015 dan ISO 22000:2018 dengan manfaat:
  1. mempermudah integrasi
  2. mempersamakan persepsi
  3. memperbaiki sistem melalui data (capital efficient)

ISO 22000:2018 PDCA Cycle

Klausul 4: Context of the organization
  1. Klausul 4.1 Understanding the organization and its context
    • berisikan isu/topik dari pihak internal / eksternal dan pertimbangan positif dan negatif terhadap perusahaan
    • contoh: isu negatif: hanya ada 1 pemasok, mesin sudah tua, fluktuasi kurs
  2. Klausul 4.2 Understanding the needs and expectations of interested parties
    • berisikan harapan baik dari internal/eksternal perusahaan
    • contoh: Stakeholder mengharapkan profit; managemen berharap efisiensi, biaya, target; karyawan berharap kenaikan gaji, karir, bonus; BPOM berharap Perusahaan memberikan laporan rutin; pemasok berharap pembayaran tepat waktu
  3. Klausul 4.3 Determining the scope of the food safety management system
    • berisikan batasan dan penerapan FSMS di Perusahaan
    • contoh: Perusahaan harus jelas menginformasikan batasan dari sertifikasi ISO 22000:2018 yang diterima: apakah keseluruhan unit atau hanya bagian tertentu. PT A pembuat mie telah tersertifikasi ISO 22000:2018 hanya sebatas proses olah dan produksi mie instannya saja, tetapi tidak untuk olah dan produksi bumbu mie
  4. Klausul 4.4 Food Safety Management System
    • berisikan definisi dari FSMS: bahaya, level risiko, frekuensi, ketidaksesuaian dll
Klausul 5: Leadership
  1. Klausul 5.1 Leadership and Commitment
    • berisikan kebijakan, tujuan/sasaran/target yang sesuai terhadap FSMS dan terintegrasi pada sistem
  2. Klausul 5.2 Policy
    • berisikan komunikasi kebijakan mengenai spesifikasi produk
  3. Klausul 5.3 Organizational roles, responsibilities and authorities
    • berisikan tanggung jawab dan kewenangan
    • setiap orang diperusahaan harus tahu perannya terhadap FSMS. contoh: Procurement berperan dalam pemilihan dan seleksi pemasok/supplier
Adapun yang dimaksud Top Management termasuk orang yang memiliki kewenangan untuk mengarahkan susunan strategis Perusahaan.

Klausul 6: Planning
  1. Klausul 6.1 Actions to address risks and opportunities
    • Penentuan dampak terhadap kesehatan dan frekuensi kejadian dalam identifikasi risiko tergantung dari skala produksi, luasan perusahaan, dll
  2. Klausul 6.2 Objectives of the FSMS and planning to achieve them
    • Suatu program perencanaan harus konsisten, terukur, patuh pada peraturan terkait, termonitor dan dapat diverifikasi, dikomunikasikan ke semua pihak terkait dan dipertahankan serta diperbaharui
  3. Klausul 6.3 Planning of changes
    • Suatu perubahan adalah kebutuhan jika berdampak positif, baik secara internal maupun eksternal. Penerapan perubahan juga memperhitungkan dampak, ketersediaan Sumber Daya dan didukung oleh komitmen semua pihak
Klausul 7: Support
  1. Klausul 7.1 Resources
  2. Klausul 7.2 Competence
  3. Klausul 7.3 Awareness
  4. Klausul 7.4 Communication
    • Pentingnya menjaga komunikasi dan relasi dengan
      • Supplier /  kontraktor 
        • spesifikasi produk
        • perjanjian kerjasama (kualitas, harga, pengiriman, pelayanan) termasuk perubahan dan KPI
        • Evaluasi supplier/vendor
        • Keterlacakan / recalls
      • Konsumer/pelanggan (internal dan eksternal) - berupa respon/tanggapan Perusahaan terhadap keluhan/aduan pelanggan. Pengisian kertas testimoni / masukan
      • Government / Regulatory - kerjasama dengan pihak pemerintah 
      • Organisasi/badan lainnya yang terkait dengan FSMS
    • Komunikasi internal: banner/poster, program edukasi, email dan dokumen informasi, buletin / papan performance, rapat-rapat
  5. Klausul 7.5 Documented Information
    • Ruang lingkup FSMS
    • Kebijakan keamanan pangan
    • respons dan keadaan darurat
    • spesifikasi (material, produk, pelayanan)
    • penggunaan
    • flow diagram
    • deskripsi proses dan lingkungan kerja
    • identifikasi bahaya dan penentuan level batas aman
    • penilaian bahaya
    • seleksi dan pengkatagorian pengendalian
    • persyaratan eksternal
    • validasi
    • perencanaan HACCP: semua utilities untuk produk, pengiriman produk akhir, produk yang dipajang di toko
    • monitoring pengendalian dan pengukuran
    • ketidaksesuaian
    • recall
Klausul 8: Operation
Klausul 9: Performance Evaluation
  1. Klausul 9.1 Monitoring, measurement, analysis and evaluation
  2. Klausul 9.2 Audit
  3. Klausul 9.3 Management review
Evaluasi kinerja didasarkan pada resume data yang telah dikumpulkan dari setiap divisi

W. Edwards Deming: without data, you are just another person with an opinion

Klausul 10: Improvement
  1. Klausul 10.1 Nonconformity and corrective action
  2. Klausul 10.2 Continual improvement
  3. Klausul 10.3 Update of the FSMS
Adapun manfaat yang harus diperoleh dengan program peningkatan kinerja:
1. menurunkan deviasi
2. menghilangkan kesalahan / human error
3. memperbaharui FSMS dengan memverifikasi peraturan




Sumber: 
1. ISO 22000 - second edition 2018-06: Food safety management systems - requirements for any organization in the food chain
2. materi pelatihan
3. U.S.Food and Drugs Administration. https://www.accessdata.fda.gov

Jumat, 01 Juli 2016

Film The Tower (2012) menurut Sudut Pandang K3





Ulasan kali ini berdasarkan film The Tower (2012) yang disutradarai oleh Kim Ji Hoon yang terinspirasi dari film Holywood tahun 1974: The Towering Inferno.

Dalam film ini, kita akan belajar banyak hal terkait K3, terutama K3 pada Gedung Bertingkat.

Film ini menggambarkan bagaimana sekelompok orang yang mencoba bertahan dan menyelamatkan diri dalam bencana hebat yang menimpa gedung pencakar langit: Tower Sky dengan ketinggian 120 lantai (terdiri dari 2 menara yang dihubungkan Sky Bridge) pada saat perayaan Christmas Eve.

Pemilik Gedung berinisiatif memberikan hadiah terindah pada tamu VIP, diluar imajinasi mereka, yakni menurunkan salju buatan dengan bantuan 10 helikopter. Namun, diluar dugaan, acara besar tersebut berubah menjadi petaka seketika dikarenakan kondisi alam yang tidak bersahabat.

ALUR CERITA DAN ULASAN K3

1. Diawali dengan kebakaran pada 1 kompor, api menjunjung tinggi dan akhirnya memecahkan sensor sprinkler. Aktivasi sprinkler mengirimkan sinyal hingga ke Pemadam Kebakaran Pusat. Namun, dikarenakan ketiadaan ketersediaan air, maka sprinkler tidak berfungsi. 
    • Manager Dapur berpendapat: permasalahan terletak pada desain bangunan. Dapur terdiri banyak kompor dan tentu saja ruangan diinisasi oleh panas. 
      • Pertanyaan: apakah detektor yang dipasang sudah sesuai? Yang tepat adalah fixed temperatur detector
      • ada beberapa jenis detektor:
        • Rate of Rise (ROR) Heat Detector
          • mendeteksi kenaikan temperatur secara cepat meski masih berupa hembusan panas
          • Umumnya aktif pada: 55-63 derajat celcius dan membunyikan alarm bel kebakaran
          • lebih tepat pada ruangan: kantor, kamar hotel, rumah sakit, ruang server, ruang arsip, gudang pabrik
        • Fixed temperatur detector
          • mendeteksi pada kenaikan temperatur yang langsung tinggi
          • lebih tepat pada ruangan: genset, basement, dapur foodcourt, gudang beratap asbes, bengkel las
          • jika pada ruangan diatas dipasang ROR, maka akan terjadi false alarm karena dengan hembusan panas saja saklar bi-metal akan kontak
        • Smoke detector
          • mendeteksi asap
          • ada yang menggunakan sensor cahaya: photoelectric. kelemahan: alarm palsu disebabkan oleh debu
          • sensor dengan metode ionization chamber. kelemahan: setelah habis penggunaannya, detektor dikatagorikan imbah radioaktif karena terdapat ameresium
        • Flame detector
          • sensitif terhadap radiasi sinar ultraviolet, yang ditimbulkan oleh nyala api, tetapi tidak bereaksi terhadap lampu ruangan
          • tipe sensor:optik, ionisasi dan thermocouple
http://projectmedias.blogspot.co.id/2013/11/jenis-jenis-detector-pemadam-kebakaran.html
    • Manager Keamanan : penyebabnya adalah tidak adanya air
      • Root cause: penyumbatan pada pengaruh eksternal. Pembekuan pipa, sehingga peralatan sprinkler dari lantai tingkat 60-80 tidak terisi air
      • Solusi: penambahan jumlah alat pemadam kebakaran selama renovasi pipa
      • Dalam Permen No 04/1980 Bab II: Pemasangan - setiap 15 meter harus ditempatkan satu APAR
        • Tanggapan: pengabaian oleh Kepala Keamanan

2. Asisten direksi memberitahukan akan adanya angin kencang (aliran udara tinggi). Namun, dikarenakan ini adalah acara besar, maka Direktur mengabaikan hal tersebut

    • Upaya: Perintah Direktur untuk menghubungi Pemadam Kebakaran Pusat dan tim penyelamat udara
    • Root cause: kondisi cuaca buruk - alam. Tidak ada yang dapat menentang atau pun mengendalikan alam

3. Saat aliran udara semakin tinggi, mesin pembuat salju tidak dapat dikendalikan, sedangkan fokus Pilot pada keseimbangan helikopter. Sling berputar kuat sehingga mesin salju menghantam gedung dan jembatan. Laju helikopter tidak terarah dan saling menabrak

    • Root cause: Persiapan Pilot yang kurang, yakni data dari badan metereologi, sebelum terbang. Di lain pihak, kurangnya kecepatan pengambilan keputusan untuk segera turun, begitu terjadi perubahan kepadatan aliran udara

4. Pada kejadian, incipient phase dan flame spread phase terjadi sangat cepat disebabkan inisiasi awal berupa ledakan dan runtuhnya bangunan. Tidak berfungsinya alat pemadam kebakaran dan banyak media yang mudah terbakar mendukung terjadinya rollover. Di beberapa tempat, bahkan sudah terjadi flashover.
    • Fase kebakaran dalam ruangan:
      1. Fase awal / Incipient Phase
        • suhu melebihi 38 derajat Celcius
        • gas panas meningkat
        • Oksigen meningkat +- 20% oksigen
      2. Fase penyebaran api / Flame Spread Phase
        • suhu meningkat : 700 derajat Celcius
        • akumulasi panas dibagian atas (dinding / atap)
        • Suplai oksigen menurun
      3. Fase meleleh / Hot Smoldering Phase
        • Oksigen dibawah 15% 
        • Temperatur ruangan sangat tinggi
        • kadar CO dan karbon dapat menyebabkan backdraft
      4. Fase Pra Backdraft / Pre Backdraft
        • oksigen rendah
        • panas tinggi
        • fase meleleh
        • konsentrasi uap bahan bakar tinggi
      5. Kebakaran sempurna / Steady State
        • Oksigen tinggi
        • peningkatan api
        • thermally balanced
      6. Backdraft
        • proses pembakaran material dalam ruangan, dimana oksigen kurang mencukupi untuk mendukung tercapainya pembakaran sempurna
        • ketika pintu ruangan terbuka, oksigen masuk, terjadi penyemburan api dari dalam ruangan ke luar pintu dikarenakan ruangan tekanan negatif
      7. Rollover
        • asap dan api menggulung/menutupi sepanjang atap hingga batas dinding
      8. Flashover
        • penyalaan dan panas dengan sedikit asap 


5. Ruangan yang dipenuhi dengan reruntuhan dan orang-orang yang panik, serta lambatnya informasi dari ruang Komando, mengakibatkan orang-orang tidak tahu apa yang harus dilakukan dan dihindarkan

  • Kepanikan mengarah pada pengabaian hal mendasar: TIDAK MENAIKI LIFT saat ada bencana alam, termasuk kebakaran dan gempa
    • konveksi panas tinggi dari kabin ke partisi lift sehingga partisi melelehkan bahan isolator: sol sepatu, juga kulit manusia
    • kabel dan sling lift terbakar, terjadi penghentian sebelum lift jatuh. jatuhnya lift menimbulkan gelombang udara sehingga dihasilkan ledakan besar
    • kepanikan menghilangkan pengetahuan dalam evakuasi diri. tidak ada satupun regu penyelamat gedung yang mengarahkan ke pintu/tangga darurat
    • Lift yang didesain untuk tahan api hanya mampu menahan selama 1 jam atau sebagai evakuasi pertama sebelum alarm kedua berbunyi

6. Tidak adanya panduan penyelamatan untuk gedung tinggi. Jalur evakuasi yang minim sehingga menyulitkan akses. Serta tidak adanya petunjuk arah ke pintu EXIT


7. Ketidakseimbangan perbandingan antara luas bangunan dengan ketersediaan fasilitas pemadaman  dan keselamatan

8. Minimnya saluran komunikasi, sehingga pihak luar tidak dapat mengetahui keadaan dimasing-masing lantai

9. KUNCI UTAMA: KEKUATAN FORMASI TEAM PEMADAM KEBAKARAN
    • meski dengan jumlah anggota terbatas, mereka tetap mengusahakan menerjang pusat api
    • pertahanan formasi, kerjasama team, dan kecepatan mengambil keputusan tepat
    • sebagai PEMIMPIN, bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan anggota, bukan diri sendiri
    • solusi: mengarahkan pembukaan air ke titik pusat dan membuat ventilasi besar agar arah api tertuju ke sumber udara
10. Di sisi lain, dalam ruang pusat komando, Presiden membuat keputusan salah, tanpa menerima masukan dari teamnya dengan mengaktivkan dinding penahan api
    • dinding terbuat dari titanium, dimana untuk meledakkannya orang-orang harus berada jauh dari tempat itu
11. Dari ruang pusat komando, kepentingan manajemen utama tidak selamanya selaras dengan kepentingan pihak keselamatan. Tanpa mengirimkan regu bantuan lain dan memperhitungkan keselamatan tim yang bertugas, Direktur lebih mengutamakan keselamatan 10 orang tamu VIP

    • Tidak semua orang dapat diselamatkan.....tetapi yang prioritas harus didahulukan
    • jalur komunikasi harus tetap aktif
12. Kondisi bangunan yang mulai rapuh, menyebabkan peretakan dan runtuhan dinding secara masif

13. Konveksi panas secara tinggi menyebabkan besi bangunan yang mulai mencair jika ada paparan suhu tinggi. Dalam waktu singkat, baja dapat meleleh seperti gula. Hal ini dikarenakan intensitas lapisan semen, fusibel dari semen konvensional

14. Manager Dapur melihat adanya harapan hidup melalui alat derek yang tergantung. Dengan bantuan bersama, mereka mengayunkan alat derek menghantam bangunan sehingga dapat jatuh

15. TIDAK SEMUA ORANG BERSEDIA MEMPERTARUHKAN NYAWA MEREKA DEMI ORANG LAIN. Itulah tugas mulia Regu Penyelamat: Pemadam Kebakaran

16. Pada jembatan penghubung, Kapten dan 1 anggota melihat potensi keretakan pada kaca. Mereka mendeteksi tingkat kerapuhan kaca untuk membuka jalan.
    • membuat tekanan menyebar pada segala arah, sehingga tidak terfokus pada 1 titik yang mengakibatkan tekanan lebih besar
    • berjalan perlahan dan tidak berlari. P = F/A. semakin tinggi gaya (termasuk graviti dan masa/berat) yang diberikan dan kecilnya luas permukaan (luas permukaan sepatu=luas pijakan), maka akan semakin tinggi tekanan yang dihasilkan
    • Petugas Penyelamat memiliki PENGETAUHAN dan PENGALAMAN KHUSUS, jadi IKUTILAH INSTRUKSI MEREKA
    • kepanikan dan kecerobohan satu orang berdampak pada keselamatan orang lain

17. Di ruang Pusat Komando, team menelusuri situasi dengan membaca software simulasi runtuhnya bangunan. 

    • Deputi Pemadam: mengeluarkan air pada Danau Neraca Air di lantai atas: volume 800 ton untuk meningkatkan pemberatan pada bangunan bagian bawah sehingga waktu bangunan untuk runtuh diperpanjang
    • Pendapat Ahli Bangunan: mereka justru akan mengalami hadangan dari kobaran api karena itu adalah pusat dari bangunan, sangat sedikit orang di dalamnya.
18. Dengan pertimbangan lain, keputusan untuk meruntuhkan gedung pun dilakukan. Regu penyelamatkan dikerahkan untuk menanamkan bom peledak.
    • Di pihak lain, Manager Keamanan mencoba untuk membuka jalan penyelamatan lain melalui tunnel lift. setiap 10 lantai, bangunan memiliki alat pengolah tahanan lift
    • Peruntuhan mempertimbangkan pembuangan limbahan struktur terdekat dengan membuka aliran air dari sistem penampung air hujan
 



Kesimpulan: 
  1. Keselamatan merupakan tanggung jawab semua pihak, bukan pihak Keamanan saja
  2. Jajaran managemen wajib patuh pada standar peraturan keselamatan yang berlaku. Pengabaikan terhadap hal kecil akan berdampak pada kerugian besar
  3. Pentingnya dilakukan simulasi bencana dan komunikasi bahaya pada setiap pekerja yang terlibat
  4. Pentingnya dibangun team managemen penanggulangan bencana



Saya berharap dan sangat berterima kasih atas saran dan masukan yang diberikan.


Selasa, 28 Juni 2016

Sekilas Tentang Alat Berat


Dalam bisnis konstruksi, alat berat merupakan aset perusahaan. Untuk mengelola sehingga diperoleh daya guna tinggi, perlu usaha profesional dalam pengoperasian, yakni perawatan dan pembinaan operator dan mekanik, dengan melibatkan pertimbangan aspek ekonomi, teknologi, sumber daya manusia, K3 dan lingkungan.


Apa saja yang menjadi pertimbangan dalam aspek K3?

Aspek K3 yang akan dibahas disesuaikan dengan alat berat dan jenis pekerjaannya. Dikarenakan penulis tidak berasal dari latar belakang tehnik sipil dan mekanikal, maka pembahasan tidak terlalu mendalam dan sesuai dengan literatur yang dijadikan referensi.

1. Pemasangan tiang pancang
    A. Penumpukkan tiang pancang
  • Atur trailer pengangkut tiang pancang berhenti di site dekat lokasi titik pemancangan
  • Siapkan balok kayu di atas tanah padat dengan jarak dan posisi yang benar
  • Turunkan tiang pancang trailer dengan hati-hati dan cara yang benar
  • Setelah tumpukan tiang pertama selesai, tempatkan lagi balok diatas tumpukan tiang pancang pertama dengan jarak dan posisi yang sesuai dengan balok atas yang ditempatkan dibawah tumpukan pertama
  • Maksimal 3 tingkat penumpukkan
  • Letakkan balok kayu pada jarak 1/5L dari ujung tiang pancang dan pasang stopper
    B. Penarikan Tiang Pancang ke Titik Pemancangan
  •  Angkut tiang pancang ke samping alat pancang dengan crane
  • Tarik tiang pancang dengan sling pada alat pancang
  •  Pengikatan sling pada jarak 1/3L dari ujung tiang
    
    C. Topi Pancang (caping)
  • Topi pancang diletakkan pada kepala pancang. Tujuannya untuk melindungi ujung tiang pancang dari pukulan hammer dan untuk meratakan pemukulan ke tiang pancang
  •  Caping dibuat dari plat baja tebal 15-25mm
  •  Hammer dan tiang pancang harus terletak pada satu garis sumbu agar pukulan merata
    D. Bantalan Kepala Tiang Pancang

  • Gunakan bantalan kayu (tebal 10cm) diantara kepala tiang dan topi. Persiapkan cadangan kayu karena pukulan berulang dapat merusak bantalan
    E. Penanganan Tiang Pancang

  • Pada saat pengangkatan, sling diikatkan pada 2 atau 4 titik
  • Pada kasus 2 titik angkat, sling diletakkan pada jarak 1/5L x panjang tiang pancang dikedua ujung
  • Pada kasus 4 titik angkat, sling diletakkan pada jarak 1/5L x panjang tiang pancang di kedua ujung ditambah pada jarak 1 meter dari titik tersebut



2. Peralatan angkat
    Peralatan kedua yang pasti ada adalah alat angkat: crane. 
    Kapasitas angkat crane sangat ditentukan oleh:
  • Radius kerja dimana semakin jauh radius benda yang diangkat, semakin kecil kapasitas crane




2A. Crawler crane
  • Alat angkat dengan sistem under carriage track (rantai)
  • Tidak memerlukan outrigger
  • Dapat langsung mengangkat beban meski jalan kerjanya kurang baik
  • Boom dibuat dari bahan tubular high strength steel chords, dibuat segmen per segmen (boom fix cremona) dimana masing-masing segmen dapat disambung dengan sistem pin sesuai kebutuhan ketinggian angkat
  • Boom dasar (basic boom) dan boom ujung (tip boom) berbeda dengan boom insert
  • Hook block dipasang pada 4 sheaves (pulley) yang dilengkapi dengan swivel hook agar dapat berputar bebas
  • Wire roop (sling) dapat diatur dari 1-8 fall
  • Crawler crane yang berfungsi sebagai dragline atau clamp shall mempunyai dua buah drum sling: angkat (wajib gunakan sling anti twist/non rotating rope) dan tarik
    • drag line
      • alat gali untuk material yang letaknya lebih tinggi dari permukaan alat
      • memiliki boom lebih panjang dari alat gali lainnya, sehingga stabilitas dragline harus diperhitungkan
      • bagian ujung bucket dikaitkan kabel drag untuk menarik bucket ke arah dragline saat penggalian
      • material yang digali harus lunak sampai agak keras

    • clamshell
      • alat gali untuk material tanah lepas: pasir, kerikil, batuan pecah
      • mengangkat material secara vertikal
      • untuk bucket yang berat dipasang gigi sebagai alat bantu

http://www.genscoequip.com/clam2.jpg
  • Anti twist berfungsi agar sling tidak terurai/terbuka lilitannya jika barang yang diangkat berputar
  • Cocok untuk kondisi pekerjaan dengan jangka waktu pemakaian relatif lama, jarang berpindah lokasi, tempat sempit dan daya dukung tanah rendah
  • Untuk mobilisasi jauh, siapkan low bed trailer (dolly) untuk mengangkutnya
  • Saat mobilisasi jauh, untuk keamanannya boom harus dipotong/dipendekkan
  • Cara penyambungan segmen boom:
http://constructionmisc.tpub.com/TM-5-3815-224-14P/img/TM-5-3815-224-14P_9_1.jpg



2B. Hydraulic Mobile Crane
  • Alat angkat dengan sistem roda ban, mudah berpindah dan boom dapat dipendekkan
  • Kemampuan angkat sesuai dengan radius jarak
  • Untuk kestabilan, hydraulic mobile crane dilengkapi 4 independent out rigger yang harus dikeluarkan secara full saat pengangkatan
  • Tapak out rigger diganjal dengan balok kayu atau pelat besi untuk menghindari penurunan tanah karena penurunan sebelah kaki out rigger dapat mengakibatkan crane terguling
  • Sesuai dengan chasis mobil, hydraulic mobil crane dibagi 2:
  • Mobile crane: chasis seperti mobil truck. Roda: 4,6,8 atau 10. Silinder panjang
  • Rough terraine crane: roda ada 4 (besar) dengan ukuran ban 26,5x25 inchi. Ukuran chasis pendek dan silinder full diatur oleh sistem hidraulik
  • pastikan sirine berbunyi jika pengangkatan melebih batas kritis crane
  • jangan melakukan pengangkatan jika beban tidak vertikal satu sumbu dengan hook karena boom dapat bengkok
2C. Sistem kendali Crane
  1. Hydraulic System
    • semua bagian: pompa dan motor hidraulik, valve silinder, seal, out rigger, boom, sudut/angle boom, sling angkat/turun, slewing diatur dengan sistem hidraulik yang dikendalikan dari dalam kabin - cepat, lembut dan tidak bersuara
    • sistem hidraulik memakai 3 pompa, berfungsi untuk:
      • hoisting (naik-turun beban)
      • slewing (berputar)
      • boom (panjang-pendek) dan out rigger
    • oleh karena itu, pentingnya pengecekan sistem hidraulik dan oli nya
    • pastikan level minyak hidraulik tidak kurang dan terlambat penggantiannya karena pompa akan cepat rusak dan keausan pada rumah pompa, silinder dan piston, sehingga kemampuan angkat crane menurun
    • perhatikan seal, jika bocor harus diganti
  2. Telescopic Boom
    • umumnya bertingkat 3 atau 4 section, dengan panjangnya @8-10 meter
    • efisiensi dan kecepatan untuk pengangkatan tinggi dengan beban ringan, boom disambung dengan auxiliary jib dan menggunakan sling satu (single rope lifting operation)
  3. Automatic Detection
    • adanya sistem advanced Microcomputer Control System untuk melindungi crane dari bahaya over load, melalui perhitungan critical load secara presisi melalui program komputer yang terhubung pada fungsi pokok crane:
      •  safety level (total moment)
      • boom angle
      • working radius
      • boom length
      • critical load
      • actual load
      • maximum hook lift
  4. Slewing 
    • pastikan posisi crane water level
  5. Brake
    • pastikan automatic brake berfungsi otomatis jika terjadi masalah pada sistem hidrolik atau salah pengoperasian
2D. Keselamatan peoperasian crane:
  • HARUS ADA permit lifting dan deskripsi alat yang digunakan
  • Operator mempunyai SIO
  • Operator membaca buku manual dan memahami bagaimana cara mengantisipasi, terutama jika terjadi kecelakaan
  • Operator harus mampu menolak pengerjaan yang diperhitungkan dapat menyebabkan kecelakaan. Tidak boleh start atau stop mendadak dan perpindahan secara cepat
  • Alat berat/angkat diinspeksi sebelum manuver ke lapangan dan Dokumentasi Ijin Pengesahan Penggunaan Pesawat dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi masih berlaku dan kondisi alat berat masih layak
  • Pastikan tempat berpijak aman, daya dukung tanah keras serta radius swing aman
  • Pastikan sirine automatic
    detection dan brake berfungsi
  • Tidak boleh ada pekerja yang berada di bawah wilayah pengangkatan
  • Saat pengangkatan, pastikan ada signal man dan sling tidak melilit/melintir
  • Posisi sling harus vertikal sebelum pengangkatan dan tidak menarik beban dari samping atau diluar jangakauan crane
  • Lifting tools sudah diinspeksi dan pemakaian sling/wire sesuai beban
  • Tidak melakukan pengangkatan jika cuaca buruk atau angin kencang atau hujan
  • Pastikan wilayah pengangkatan aman dari power lines. Jaga jarak 3,5meter dari power line 50.000 volts (+ 1cm setiap pertambahan 1kV jika >50kV)
  • Saat operator meninggalkan alat:
    • mesin dalam keadaan mati dan transmisi harus dalam keadaan disengaged
    • bucket atau beban harus dilepas (berada di tanah dalam posisi tepat)
    • swing brake dan traksi posisi di rem untuk melindungi crane agar jangan bergerak
 2E. Wire Rope pada Boom - penyebab kerusakan


  • pemakaian diameter yang salah, konstruksi dan kualitas mutu rendah
  • gesekan tinggi karena pelumasan tidak baik
  • ukuran wire rope and sheaves (pulley) tidak sama, berbeda ukuran
  • gulungan pada sheaves (pulley) tidak teratur
  • pemakaian klem yang salah
  • pengangkatan beban yang melebihi kapasitas
  • cacat atau tidak
  • berapa kawat telah putus per lay
  • adakah kororsi
  • pelumasannya
  • kondisi pulley, bearing
Oleh karena itu perlu inspeksi dan perawatan sling setiap minggu. Pengecekan kondisi sling:
Pelumasan diperlukan karena selama pemakaian sling mengalami perubahan tegangan: dari kendor menjadi tegang, gesekan antar kawat, gesekan dengan pulley jika bearing macet yang mengakibatkan diameter sling mengecil dan keacusan lebih dipercepat. 


PEMELIHARAAN

Kurangnya pengetahuan keselamatan serta tidak membaca instruksi penggunaan menyebabkan rendahnya tingkat pengendalian dan pencegahan terhadap bahaya. Pada alat berat, bahaya yang umumnya terjadi adalah:
  1. Arus / tegangan berlebihan
    • timbul pada terminal-terminal aki atau kabel sistem listrik yang menimbulkan panas. Panas ini melelehkan kabel atau konduktor yang dilewati oleh aliran arus hubungan singkat tersebut. jika terdapat bahan mudah terbakar, uap yang terbentuk akan berinisiasi dengan panas dan menimbulkan kebakaran.
      • Peringatannya: Jangan menghubungkan/memutuskan hubungan terminal aki pada saat saklar pemutus hubungan sedang ON dan sistem mesin sedang diaktifkan karena akan terjadi perbedaan potensial tegangan
      • Periksalah polaritas hubungan aki.
      • Jangan ganti sekring dengan rating arus berbeda dan hindari bypass sekring
    • jangan biarkan terminal (telanjang/tidak diisolasi) yang sedang diputuskan (dalam kondisi rangkaian listrik tetap aktif) bersentuhan dengan komponen, chassis/bodi atau ke rangkaian lainnya untuk menghindari terjadinya shorting atau grounding
  2. Alat bergerak sendiri
    • gerakan ini disebabkan oleh kesalahan prosedur pengisolasian alat/kendaraan sebelum mulai bekerja
    • hal ini umumnya terjadi pada kegiatan pemeliharaan, pengujian listrik harus dilakukan pada saat mesin hidup untuk mengetahui sistem listrik. Seringkali tehnisi lupa bahwa mesin sedang hidup dan dapat bergerak sendiri
    • contohnya: solenoid katup kontrol hidrolik yang aktif dengan tidak sengaja sehingga bucket/blade jatuh
Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan pada saat pekerjaan pemeliharaan
  1. Isolasi rangkaian listrik dari aki yang diisi sebelum aki jumper dihubungkan ke terminal positif aki yang hendak diiisi. 
    • kabel jumper positif dihubungkan ke terminal suplai positif pada alat yang macet, sedangkan jumper negatif ke rangka alat yang baik
      • Mencegah agar rangkaian aktif pada mesin tidak langsung menarik arus dari aki jumper yang dapat menimbulkan percikan api pada saat terminal-terminal dihubungkan
  2. Pada saat pengisian aki, saklar isolasi harus diOFF
    • jika terminal aki hendak dilepas dari aki, lepaskan lebih dulu terminal pembumian 
  3. Perhatikan beberapa hal berikut saat hendak melakukan pengelasan pada mesin:
    • matikan saklar isolasi. lepaskan terminal aki dan tutup aki untuk mencegah percikan las menyulut aki
    • lepaskan kabel output alternator sistem pengisian dari bridge rectifier
    • hubungkan kabel grounding pengelasan sedekat mungkin dengan benda kerja dan ke permukaan logam yang baik dan bersih untuk mencegah arus stray yang menimbulkan rute konduktif bolak balik melalui rangkaian listrik
    • jangan biarkan pembumian pengelasan bersentuhan dengan kabel atau komponen listrik manapun
    • jika pengelasan dilakukan terlalu dekat dengan peralatan listrik yang lemah, sebaiknya alat pemutus (circuit breaker) dibuka dan sekring dilepas agar medan elektromagnet tidak menginduksi tegangan dan arus di dalam rangkaian alat


SUMBER:

Wilopo, Djoko. "Metode Konstruksi dan Alat Berat". UI Press:2009

Budi Tri Siswanto. "Teknik Alat Berat Jilid 3 untuk Sekolah Menengah Kejuruan". Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan:2008.